BMKG Prediksi Kemarau 2026 Lebih Kering dan Panjang, Pemerintah Diminta Siaga Hadapi El Nino

JAKARTA — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi Indonesia akan menghadapi musim kemarau 2026 yang lebih panas, kering, dan berlangsung lebih lama dibandingkan kondisi normal, seiring potensi berkembangnya fenomena El Nino mulai pertengahan tahun. Peringatan ini disampaikan berdasarkan analisis atmosfer per awal April 2026 dan hasil koordinasi lintas sektor pada 13 April 2026 di Jakarta.

Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menyatakan bahwa meski kondisi iklim global saat ini masih berada pada fase netral, terdapat peluang 50–80 persen terjadinya El Nino dengan intensitas lemah hingga moderat pada semester kedua 2026. “Kondisi iklim global saat ini masih berada pada fase netral, namun pada semester kedua 2026 diprakirakan berkembang menuju fase El Nino lemah hingga moderat,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa kemarau merupakan siklus tahunan, tetapi dampaknya dapat memburuk jika beriringan dengan El Nino. “Perlu dipahami bahwa kemarau dan El Nino itu adalah dua fenomena yang berbeda. Namun jika terjadi bersamaan, kemarau akan menjadi jauh lebih kering,” kata Faisal.

Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, menambahkan bahwa peluang El Nino kuat tetap ada meskipun kecil, yakni di bawah 20 persen. Ia juga mengingatkan adanya keterbatasan akurasi prediksi pada periode Maret–April akibat fenomena “spring predictability barrier”. “Tingkat kepercayaan terhadap intensitas El Nino akan semakin tinggi pada hasil prediksi bulan Mei 2026,” ujarnya.

Sementara itu, peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Erma Yulihastin, memperingatkan potensi skenario ekstrem yang disebut sebagai “El Nino kuat” atau “Godzilla El Nino”. Ia menyebut kombinasi El Nino dan fenomena Indian Ocean Dipole (IOD) positif berpotensi memperparah kekeringan di Indonesia. “Kemarau bisa jadi lebih panjang, lebih kering, dan hujan makin jarang turun di Indonesia,” ujarnya.

Data BMKG menunjukkan bahwa hingga awal April 2026, sekitar 7,8 persen wilayah Indonesia telah memasuki musim kemarau, meliputi sebagian wilayah Sumatra, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Sulawesi, hingga Papua Barat Daya. Curah hujan pada periode dasarian II April hingga awal Mei diprediksi rendah, yakni di bawah 50 mm per dasarian.

Secara historis, fenomena El Nino kerap berdampak signifikan terhadap sektor pertanian, ketersediaan air, serta peningkatan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Pada kejadian sebelumnya, penurunan curah hujan menyebabkan gangguan produksi pangan dan krisis air di sejumlah wilayah.

Dari sisi dampak, kondisi kemarau panjang berpotensi menekan produktivitas pertanian, terutama di wilayah lumbung pangan seperti Pantai Utara Jawa. Selain itu, risiko kekeringan juga dapat mengganggu pasokan air bersih masyarakat serta meningkatkan potensi bencana lingkungan seperti karhutla di Sumatra dan Kalimantan. Di sisi lain, beberapa wilayah seperti Sulawesi dan Maluku justru berpotensi mengalami curah hujan berlebih yang dapat memicu banjir dan longsor.

Pemerintah melalui BMKG menegaskan akan terus memperbarui data dan memperkuat koordinasi lintas sektor guna menghadapi potensi dampak tersebut. Langkah mitigasi yang disiapkan antara lain peningkatan kesiapsiagaan daerah, pengelolaan sumber daya air, serta penguatan strategi ketahanan pangan dan penanggulangan bencana menjelang puncak musim kemarau 2026.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *