
SUMEDANG, April 2026 — Seorang anak berusia enam tahun bernama Fikri yang sebelumnya hidup sebagai pemulung di jalanan Jakarta kini mendapatkan akses pendidikan setelah dipindahkan ke Sekolah Rakyat Terpadu (SRT) 4 Sumedang pada akhir Maret 2026, menyusul viralnya video yang memperlihatkan kondisi hidupnya dan mendorong intervensi pemerintah.
Fikri, anak kedua dari pasangan Sri dan M. Ulmi, sebelumnya menghabiskan hari-harinya mengais barang bekas di jalanan ibu kota demi membantu kebutuhan hidup keluarga. Setelah video tentang dirinya beredar luas di media sosial, aparat kepolisian mengevakuasi Fikri dan membawanya ke ibunya di Sumedang sebelum akhirnya ditempatkan di sekolah berasrama melalui program Sekolah Rakyat.
“Aku tinggal di sini. Sekolahnya seru. Aku jadi ngerasain punya kakak, punya bapak, punya ibu, banyak teman juga. Semua baik-baik,” ujar Fikri saat ditemui di lingkungan sekolahnya.
Pihak pengelola sekolah menyatakan bahwa Fikri awalnya mengalami kesulitan beradaptasi dengan lingkungan baru. Namun, melalui pendampingan intensif dari wali asuh dan tenaga pendidik, kondisi psikologisnya berangsur membaik.
“Pendekatan yang kami lakukan adalah membangun rasa aman dan kepercayaan diri anak. Kami ingin memastikan Fikri tidak hanya mendapatkan pendidikan, tetapi juga perhatian dan kasih sayang,” ujar salah satu pengasuh di SRT 4 Sumedang.
Selain pendidikan formal, Fikri juga mendapatkan fasilitas pemenuhan kebutuhan dasar, termasuk makanan bergizi dan tempat tinggal yang layak. Ia mengaku kini tidak lagi khawatir soal kebutuhan sehari-hari. “Aku juga bisa makan, makanannya enak banget. Aku jadi kuat,” katanya.
Kasus Fikri mencerminkan realitas sosial anak jalanan di Indonesia yang masih menghadapi keterbatasan akses pendidikan dan perlindungan. Berdasarkan data Kementerian Sosial, anak-anak dari keluarga rentan ekonomi memiliki risiko tinggi putus sekolah dan terlibat dalam pekerjaan informal sejak usia dini.
Program Sekolah Rakyat sendiri merupakan salah satu inisiatif pemerintah untuk menjangkau anak-anak dari kelompok marjinal, termasuk anak jalanan, dengan menyediakan pendidikan gratis berbasis asrama. Program ini dirancang untuk memastikan hak pendidikan terpenuhi sekaligus memberikan lingkungan yang aman dan kondusif bagi tumbuh kembang anak.
Dari sisi dampak, intervensi ini dinilai mampu memutus rantai kemiskinan jangka panjang dengan memberikan akses pendidikan sejak dini. Selain itu, pendekatan berbasis asrama memungkinkan pengawasan dan pembinaan karakter secara lebih intensif, terutama bagi anak dengan latar belakang keluarga tidak utuh.
Ke depan, pemerintah melalui kementerian terkait berencana memperluas jangkauan program Sekolah Rakyat ke berbagai daerah serta memperkuat sinergi dengan aparat penegak hukum dan pemerintah daerah untuk mengidentifikasi anak-anak rentan lainnya yang membutuhkan intervensi serupa.
