Bank Indonesia Tingkatkan Intervensi Setelah Rupiah Tembus Rp18.000 per Dolar AS

JAKARTA – Bank Indonesia memastikan akan meningkatkan intensitas intervensi di pasar keuangan setelah nilai tukar rupiah menembus level psikologis Rp18.000 per dolar AS dan mencatat posisi terlemah dalam sejarah perdagangan modern.
Pada perdagangan Kamis (4/6/2026), rupiah dibuka di level Rp18.016 per dolar AS atau melemah 49 poin dibandingkan perdagangan sebelumnya. Kondisi tersebut terjadi di tengah meningkatnya tekanan eksternal akibat ketidakpastian global dan eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah.
Deputi Gubernur Senior BI, Destry Damayanti, menjelaskan bahwa pelemahan rupiah saat ini masih didorong oleh faktor eksternal, khususnya meningkatnya ketegangan geopolitik yang berdampak pada pasar energi dan arus modal global.
Menurutnya, memanasnya konflik di kawasan Timur Tengah membuat harga minyak dunia bertahan pada level tinggi sehingga meningkatkan risiko inflasi global dan mendorong investor mengalihkan dana ke aset yang dianggap lebih aman.
“Pelemahan nilai tukar masih dipengaruhi oleh tensi geopolitik Timur Tengah yang kembali tereskalasi dan menghambat prospek perdamaian, sehingga mendorong harga minyak tetap tinggi dan meningkatkan risiko inflasi global serta arus dana keluar dari negara berkembang,” ujarnya.
Kebutuhan Valas Domestik Masih Tinggi
Selain faktor global, BI juga mencatat tingginya kebutuhan valuta asing di dalam negeri turut memberikan tekanan terhadap rupiah. Kebutuhan tersebut terutama berasal dari repatriasi dividen perusahaan serta pembayaran utang luar negeri oleh korporasi dan sektor swasta.
Kondisi tersebut menyebabkan permintaan dolar AS meningkat di pasar domestik sehingga memperbesar tekanan terhadap mata uang nasional.
BI Siapkan Intervensi Berlapis
Untuk menjaga stabilitas pasar keuangan, Bank Indonesia menegaskan akan terus hadir di pasar melalui berbagai instrumen kebijakan.
Intervensi dilakukan melalui:
- Transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore.
- Transaksi spot di pasar domestik.
- Instrumen Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF).
- Pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.
Langkah tersebut bertujuan menjaga mekanisme pasar tetap berjalan secara sehat sekaligus mengurangi volatilitas yang berlebihan.
“Bank Indonesia akan terus hadir di pasar dan meningkatkan intensitas intervensi untuk memastikan mekanisme pasar berjalan dengan baik dan stabilitas nilai tukar rupiah tetap terjaga sesuai fundamental ekonomi,” kata Destry.
Perkuat Daya Tarik Aset Domestik
Selain intervensi langsung, BI juga memperkuat daya tarik instrumen keuangan domestik melalui kebijakan suku bunga dan instrumen moneter yang lebih kompetitif guna menjaga aliran modal asing tetap masuk ke Indonesia.
Strategi ini diharapkan mampu menahan tekanan arus keluar modal (capital outflow) yang biasanya meningkat saat ketidakpastian global membesar.
Dorong Penggunaan Mata Uang Lokal
Sebagai langkah jangka panjang, BI terus memperluas implementasi skema Local Currency Transaction (LCT) untuk mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS dalam perdagangan internasional.
Saat ini Indonesia telah menjalankan kerja sama LCT dengan beberapa negara, antara lain:
- China
- Jepang
- Malaysia
- Thailand
- Korea Selatan
- Uni Emirat Arab
Pemanfaatan LCT menunjukkan tren peningkatan yang signifikan. Hingga April 2026, nilai transaksi mencapai sekitar US$22,7 miliar, mendekati total transaksi sepanjang tahun 2025 yang sebesar US$25,7 miliar.
Cadangan Devisa Tetap Kuat
Meski rupiah mengalami tekanan, BI menegaskan kondisi fundamental eksternal Indonesia masih relatif terjaga.
Cadangan devisa Indonesia pada akhir April 2026 tercatat sebesar US$146,2 miliar, yang dinilai cukup untuk menopang stabilitas sektor eksternal serta kebutuhan pembiayaan impor dan pembayaran utang luar negeri.
Bank Indonesia juga menilai pelemahan rupiah masih sejalan dengan tren yang terjadi pada sejumlah mata uang negara berkembang lainnya di kawasan.
Secara year-to-date, rupiah tercatat melemah sekitar 7,44 persen, mencerminkan tekanan global yang turut dialami banyak negara akibat ketidakpastian geopolitik, tingginya harga energi, dan pergeseran arus modal internasional.
Ke depan, BI menegaskan akan terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah, pelaku pasar, dan sektor korporasi guna menjaga stabilitas sistem keuangan nasional serta meminimalkan dampak gejolak global terhadap perekonomian Indonesia.