
Mahasiswa dan Pelajar, Jangan Terprovokasi oleh Undangan Aksi yang Tidak Berdasar
Tiranitotalitas, Jakarta – Dalam situasi yang penuh dengan berbagai isu global, penting bagi kita semua, khususnya mahasiswa dan pelajar, untuk tetap bijak dan tidak mudah terprovokasi oleh ajakan atau undangan aksi yang dapat memicu ketegangan sosial maupun politik. Salah satu contoh adalah undangan aksi bertajuk “Indonesia Bukan Satpam Israel” yang mengajak masyarakat untuk menolak keterlibatan Indonesia dalam misi perdamaian internasional.Sebagai generasi muda yang berpendidikan, kita harus memahami bahwa kebebasan berekspresi memang dijamin oleh konstitusi Indonesia, sebagaimana diatur dalam Pasal 28E ayat (3) UUD 1945 dan UU No. 9 Tahun 1998 tentang Kemerdekaan Mengemukakan Pendapat di Muka Umum. Namun, kebebasan ini harus digunakan secara bertanggung jawab dan tidak boleh disalahgunakan untuk menyebarkan narasi yang dapat memecah belah persatuan bangsa atau merugikan kepentingan nasional.
Desakan agar Indonesia mundur dari Board of Peace (BoP) dan tidak mengirim pasukan ke International Stabilization Force (ISF) di Gaza menguat pada awal 2026, terutama setelah eskalasi konflik yang melibatkan serangan AS-Israel ke Iran. MUI dan beberapa pengamat khawatir keikutsertaan ini melanggengkan penjajahan Israel, mengabaikan kedaulatan Palestina, serta berisiko menyeret TNI dalam konflik bersenjata yang tidak di bawah mandat langsung PBB. “Pemerintah Indonesia, di bawah Presiden Prabowo Subianto, menegaskan komitmen tersebut adalah bagian dari upaya aktif perdamaian dan berjanji akan keluar jika BoP tidak sejalan dengan kemerdekaan Palestina”.
Apa Positifnya bagi Indonesia (Argumen Pemerintah & Pendukung):
1. Posisi Diplomatik Lebih Kuat: Dengan menjadi anggota BoP, Indonesia berada di meja perundingan, memungkinkan suara Indonesia didengar untuk mendorong kemerdekaan Palestina dari dalam.
2. Akses Bantuan Kemanusiaan: Keterlibatan di ISF diharapkan membuka jalur bantuan kemanusiaan yang lebih aman dan terorganisir di Rafah/Gaza.
3. Wujud “Aktif” dalam Perdamaian: Sesuai Konstitusi, ini adalah komitmen nyata Indonesia dalam menciptakan ketertiban dunia, bukan sekadar penonton.
4. Peran Strategis: Indonesia diberitakan akan menjadi wakil komandan ISF, memberikan posisi tawar yang tinggi untuk membatasi mandat pasukan agar tidak melakukan operasi militer ofensif, melainkan hanya stabilitas.
Hingga Maret 2026 pemerintah Indonesia tengah mengevaluasi keterlibatan di BoP usai serangan AS-Israel ke Iran.
– TNI masih menyiapkan personel, namun keputusan akhir mengenai jumlah dan waktu keberangkatan masih dalam perundingan, terutama setelah adanya desakan publik.
-Pemerintah meyakini kehadiran di BoP adalah taktik diplomasi untuk mengawal perdamaian, bukan mendukung penjajahan.
Secara keseluruhan, keikutsertaan Indonesia di BoP dilihat sebagai langkah strategis dan konstitusional untuk memastikan perdamaian yang adil dan abadi di Palestina, sekaligus mengukuhkan posisi Indonesia di panggung dunia.
Mengapa Kita Harus Waspada terhadap ajakan aksi yang tidak berdasar?
1. Potensi Provokasi dan Manipulasi Isu. Undangan aksi seperti ini sering kali memanfaatkan isu-isu sensitif untuk memancing emosi masyarakat, khususnya generasi muda. Padahal, tidak semua informasi yang disampaikan memiliki dasar faktual yang kuat. Sebagai contoh, ajakan untuk menolak keterlibatan Indonesia dalam misi perdamaian internasional justru bertentangan dengan prinsip diplomasi damai yang dipegang teguh oleh Indonesia dalam menjaga perdamaian dunia.
2. Risiko Memecah Belah Persatuan. Aksi-aksi yang tidak terorganisir dengan baik dan tidak memiliki landasan yang jelas dapat memicu konflik di tengah masyarakat. Hal ini berpotensi merusak stabilitas sosial dan menciptakan ketegangan yang tidak perlu.
Sebagai agen perubahan, mahasiswa dan pelajar memiliki tanggung jawab untuk menjaga persatuan dan stabilitas negara. Jangan sampai kita terjebak dalam narasi yang justru merugikan bangsa dan menghambat kemajuan bersama.
Diharapkan kepada seluruh mahasiswa dan pelajar dan masyarakat untuk tidak mudah terprovokasi oleh undangan aksi yang tidak memiliki dasar yang jelas. Jika ada isu yang ingin disuarakan, lakukanlah dengan cara yang bijak, sesuai dengan prosedur hukum yang berlaku, dan tetap menjaga ketertiban umum. Mari kita fokus pada hal-hal yang lebih konstruktif, seperti meningkatkan kualitas pendidikan, memperkuat solidaritas sosial, dan berkontribusi positif bagi bangsa.KesimpulanIndonesia adalah negara yang menjunjung tinggi perdamaian dan keadilan. Namun, perjuangan untuk mencapai hal tersebut harus dilakukan dengan cara yang benar, bukan melalui aksi-aksi yang berpotensi memecah belah persatuan. Mari kita bersama-sama menjaga stabilitas negara dan tidak terprovokasi oleh narasi yang tidak bertanggung jawab. Mahasiswa dan pelajar, jadilah generasi yang cerdas, kritis, dan bijak dalam menyikapi setiap isu yang berkembang.