BOYOLALI – Petani hortikultura di Dukuh Pasah, Desa Senden, Kecamatan Selo, Kabupaten Boyolali mulai merasakan dampak positif Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang membuka jalur distribusi baru bagi hasil pertanian. Salah satunya dialami Budi, petani sayuran yang kini dapat menyuplai langsung kebutuhan dapur MBG, sehingga memperoleh kepastian pasar dan harga yang lebih stabil.
Budi menjelaskan, sebelum adanya program MBG, hasil panennya harus melalui pengepul sebelum sampai ke pasar besar seperti Cepogo, Bandungan, hingga Sragen. Kondisi tersebut membuat harga jual kerap berfluktuasi dan tidak menentu. “Saya petani hortikultura, menanam berbagai jenis sayuran seperti pakcoy, tomat, brokoli, wortel, dan lainnya,” ujarnya saat ditemui di kebunnya.
Ia mengungkapkan, saat ini telah terjalin kerja sama dengan dapur MBG melalui Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Podo Moro di wilayah Gebyog. Meski kapasitasnya masih terbatas, skema ini mulai memberikan dampak nyata bagi petani. “Sejauh ini sudah ada kerja sama dengan MBG, tapi kapasitasnya masih terbatas,” kata Budi.
Dalam operasionalnya, dapur MBG tersebut membutuhkan pasokan sayuran setiap hari, di antaranya sekitar 50 kilogram pakcoy, 30 kilogram tomat, dan 20 kilogram selada. Kebutuhan tersebut kini dapat dipenuhi langsung oleh petani setempat tanpa melalui rantai distribusi panjang.
Menurut Budi, perubahan pola distribusi ini memberikan keuntungan ekonomi yang signifikan. “Program MBG ini sangat membantu, karena harga sayuran bisa lebih baik dibandingkan sebelumnya,” ujarnya. Ia menambahkan, stabilitas harga juga berdampak pada peningkatan pendapatan serta mendorong keberlanjutan usaha tani di wilayahnya.
Program MBG yang digagas pemerintah bertujuan meningkatkan kualitas gizi masyarakat sekaligus mendorong perputaran ekonomi lokal. Dalam implementasinya, program ini melibatkan berbagai pihak, termasuk petani, untuk memastikan ketersediaan bahan pangan segar dan berkualitas.
Dari sisi dampak, keterlibatan petani lokal dalam rantai pasok MBG dinilai mampu memperkuat ketahanan pangan daerah, mengurangi ketergantungan pada distributor besar, serta meningkatkan kesejahteraan petani. Selain itu, skema distribusi langsung juga membantu efisiensi biaya dan menjaga kualitas produk hingga ke konsumen.
Meski demikian, Budi berharap cakupan program dapat diperluas agar lebih banyak petani dan komoditas lokal terserap. “Program MBG ini sangat baik untuk dilanjutkan. Ke depan, mungkin bisa lebih dievaluasi agar kebutuhan dapur bisa semakin banyak menyerap produk kami,” katanya.
Pemerintah melalui pelaksana program MBG berencana melakukan evaluasi dan pengembangan skema distribusi guna meningkatkan kapasitas penyerapan hasil pertanian lokal. Langkah ini diharapkan dapat memperluas manfaat program, baik bagi petani maupun masyarakat sebagai penerima manfaat.
