Jakarta — Ratusan personel Satuan Tugas (Satgas) Force Headquarters Support Unit (FHQSU) XXVI-O1 Kontingen Garuda yang tergabung dalam misi United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL) menggelar latihan rencana kontingensi di Soedirman Camp, Naqoura, Lebanon selatan, Minggu (29/10/2023), sebagai respons atas meningkatnya eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah.
Latihan tersebut melibatkan berbagai unsur satgas, termasuk Military Community Outreach Unit (MCOU), Civil Military Coordination (CIMIC), INDOMEDIC, Maritime Task Force (MTF), serta staf markas (HQ), dengan tujuan meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi berbagai kemungkinan situasi darurat di wilayah penugasan.
Komandan Satgas FHQSU XXVI-O1, Kolonel Arm Ezra Nathanael, menyatakan bahwa latihan kontingensi merupakan bagian penting dalam memastikan kesiapan seluruh personel di lapangan.
“Latihan ini adalah bagian integral dari upaya satgas untuk selalu siap sedia dalam menghadapi berbagai situasi dan kondisi di Lebanon saat ini,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa setiap personel wajib memahami prosedur tetap (protap) dan skenario darurat, termasuk kemungkinan evakuasi dan penarikan mundur ke lokasi aman seperti Beirut dan Siprus apabila situasi memburuk.
“Seluruh satgas harus memiliki rencana kontingensi dan terus dilatih, termasuk skenario terburuk seperti evakuasi dari daerah operasi ke lokasi aman,” kata Ezra.
Latihan ini juga menekankan pentingnya kesiapan menghadapi peningkatan status keamanan dari Red Alert ke Black Alert, yang menandakan kondisi darurat tingkat tinggi di wilayah konflik.
Secara historis, kehadiran pasukan UNIFIL, termasuk Kontingen Garuda dari Indonesia, merupakan bagian dari mandat Dewan Keamanan PBB untuk menjaga stabilitas di perbatasan Lebanon-Israel. Namun, dalam beberapa pekan terakhir, ketegangan meningkat seiring konflik bersenjata antara Israel dan kelompok Hamas di Gaza yang turut melibatkan Hezbollah di wilayah Lebanon selatan.
Situasi tersebut berdampak langsung terhadap wilayah Naqoura yang menjadi lokasi markas UNIFIL, sehingga meningkatkan risiko keamanan bagi personel penjaga perdamaian, termasuk kontingen Indonesia.
Dari sisi dampak, peningkatan kesiapsiagaan melalui latihan kontingensi dinilai krusial untuk meminimalkan risiko korban jiwa serta memastikan kelangsungan misi perdamaian. Latihan ini juga menjadi indikator bahwa kondisi keamanan di lapangan berada pada level yang memerlukan kewaspadaan tinggi.
Sebagai tindak lanjut, TNI memastikan seluruh personel yang bertugas di bawah UNIFIL terus menjalani latihan rutin sesuai standar operasional prosedur PBB, termasuk skenario evakuasi darurat, guna menjamin keselamatan prajurit di tengah dinamika konflik yang terus berkembang.
