
Indonesia Teguhkan Strategi Geopolitik Mandiri di Tengah Persaingan AS–Tiongkok
Tiranitotalitas, Jakarta – Konten akun TikTok @prof.john.talks menggambarkan kerja sama Indonesia–Tiongkok sebagai “titik balik revolusioner” yang mengakhiri dominasi Amerika Serikat di kawasan Pasifik cenderung menyederhanakan dinamika geopolitik yang jauh lebih kompleks. Politik luar negeri Indonesia dengan prinsip bebas dan aktif, yang berarti tidak berpihak pada blok kekuatan mana pun, sekaligus aktif membangun kerja sama demi kepentingan nasional dan stabilitas kawasan. Dalam kerangka itu, setiap perjanjian strategis—baik dengan Tiongkok, Amerika Serikat, maupun mitra lainnya—harus dibaca sebagai bagian dari strategi keseimbangan, bukan pergeseran kekuatan.
Kerja sama ekonomi dan kemungkinan penggunaan yuan dalam transaksi bilateral lebih tepat dipahami sebagai langkah pragmatis dalam merespons perubahan arsitektur ekonomi global. Dedolarisasi bukan semata agenda politik, melainkan fenomena yang berkembang di banyak negara untuk mengurangi risiko ketergantungan pada satu mata uang dan memperkuat ketahanan ekonomi nasional. Bagi Indonesia, diversifikasi instrumen keuangan adalah bagian dari strategi menjaga stabilitas makroekonomi dan memperluas opsi perdagangan, bukan deklarasi konfrontasi terhadap sistem keuangan Amerika.
Dari sisi geopolitik dan geostrategis, posisi Indonesia di persilangan Samudra Hindia dan Pasifik memang menjadikannya aktor kunci dalam jalur perdagangan dunia, termasuk Selat Malaka. Namun, pengelolaan wilayah tersebut tetap berada di bawah kedaulatan dan hukum nasional Indonesia serta kerangka hukum laut internasional. Kerja sama dengan Tiongkok atau negara lain tidak otomatis berarti memberikan “kontrol” atas jalur strategis, melainkan bentuk kolaborasi yang tetap berada dalam batas kepentingan dan regulasi Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia.
Jika kerja sama tersebut berdampak pada berkurangnya dominasi tunggal Amerika di kawasan, hal itu lebih mencerminkan pergeseran menuju tatanan multipolar daripada kemenangan satu pihak atas pihak lain. Indonesia berkepentingan menjaga keseimbangan kekuatan (balance of power) agar tidak terjadi rivalitas terbuka yang mengganggu stabilitas Asia Tenggara. Dalam konteks ini, memperluas kemitraan dengan Tiongkok sekaligus tetap menjalin hubungan erat dengan Amerika Serikat justru memperkuat posisi tawar Indonesia.
Dengan demikian, alih-alih dipahami sebagai langkah yang mengguncang tatanan global secara sepihak, dinamika hubungan Indonesia–Tiongkok lebih tepat dilihat sebagai manifestasi dari strategi nasional yang rasional: memanfaatkan peluang ekonomi, memperkuat posisi geostrategis, dan menjaga otonomi kebijakan di tengah kompetisi kekuatan besar. Prinsip bebas dan aktif tetap menjadi jangkar utama, sehingga Indonesia tidak menjadi arena perebutan pengaruh, melainkan aktor mandiri yang menentukan arah kepentingannya sendiri.